Hukum Mengurus Jenazah Muslimah

Tiap makhluk yang diberi nyawa, sesuatu dikala hendak kembali pada Rabb- Nya. Usia manusia juga tidak terdapat yang mengenali. Kematian ialah suatu teka- teki serta dapat tiba sewaktu- waktu.

Kala wafat, dalam Islam dituliskan ketentuan, ketentuan, dan metode dalam mengurus jenazah. Tercantum di dalamnya gimana mengurus jenazah muslimah mulai dari memandikan, menyolati, sampai menguburkan.

Buat urusan memandikan jenazah muslimah, hingga harus diserahkan kepada sesama muslimah. Tidak diperbolehkan seseorang pria baik kerabat, suami, ataupun anak buat ikut dan. Ada pula ketentuan untuk yang mau memandikan jenazah merupakan muslim, berakal, mumayiz, terpercaya, amanah, serta mengerti atas hukum- hukum memandikan jenazah.

Hukum memandikan jenazah ini fardhu kifayah. Bersumber pada hadis dari Abdullah bin Abbas,” Terdapat seseorang lelaki yang lagi wukuf di Arafah bersama Nabi SAW. Seketika dia terjatuh dari hewan tunggangannya kemudian wafat. Hingga Nabi bersabda: mandikanlah dia dengan air serta daun bidara. Serta kafanilah ia dengan 2 lapis kain, jangan beri minyak wangi serta jangan tutup kepalanya. Sebab Allah hendak membangkitkannya di hari Kiamat dalam kondisi bertalbiyah.”

Diceritakan pula oleh Ummu Athiyyah dalam HR Bukhari,” Salah seseorang gadis Nabi SAW wafat( ialah Zainab). Hingga dia keluar serta bersabda: mandikanlah dia 3 kali, ataupun 5 kali ataupun lebih dari itu bila kamu menyangka itu butuh. Dengan air serta daun bidara. Serta jadikanlah siraman kesimpulannya merupakan air yang dicampur kapur barus, ataupun sedikit kapur barus.

Bila kamu telah berakhir, hingga biarkanlah saya masuk. Kala kami sudah menyelesaikannya, hingga kami beritahukan kepada dia san diego hills . Setelah itu diberikan kepada kami kain penutup tubuhnya, serta kami menguncir rambutnya jadi 3 kunciran, kemudian kami arahkan ke belakangnya.”

Sebagian proses ataupun tahapan memandikan jenazah ialah awal jenazah ditempatkan di tempat pemandian yang tertutup dari pemikiran manusia yang lain. Kedua di dalam pemandian tidak boleh terdapat orang tidak hanya yang hendak memandikan jenazah ataupun menolong proses pemandian. Berikutnya meletakkan kain penutup diatas aurat jenazah dari pusar hingga kedua lutut bila mayat pria serta dari dada hingga kedua lutut bila jenazahnya wanita.

Langkah berikutnya merupakan membebaskan segala pakaian serta membungkukkan jenazah dengan mengangkut kepalanya nyaris dalam kondisi duduk. Perihal ini dicoba buat mensterilkan sisa- sisa kotoran di bagian balik. Mensterilkan kemaluan jenazah dengan kain kemudian mewudhukan jenazah. Setelahnya mensterilkan tubuh dengan sarung tangan yang lain. Jenazah setelah itu disiram dengan buih air sidr( daun sidr).

Dalam memandikan jenazah diawali dari kanan depan, kemudian kanan balik, kiri depan kemudian kiri balik yang dicoba sebanyak 3 kali. Berikutnya menyirami segala badan jenazah dengan memakai air dari kapur barus. Mengeringkan jenazah dicoba dengan memakai handuk.

Untuk jenazah pria rambutnya wajib disisir, sedangkan untuk jenazah muslimah dikepang 3 kali. Terakhir untuk yang memandikan jenazah serta berwudhu untuk yang bawa jenazah disunnahkan mandi setelahnya.

Sehabis dimandikan, jenazah harus dikafani. Untuk jenazah perempuan, diajarkan memakai 5 helai kain bercorak putih. Mengkafani jenazah merupakan hanya menutup segala badannya dengan bagus. Dalam HR Muslim Nabi bersabda,” Apabila salah seseorang diantara kamu mengkafani saudaranya, hingga hendaklah memperbagus kafannya.”

Jumhur ulama berkomentar disunnahkan untuk jenazah perempuan memakai 5 helai kain kafan. Tetapi, hadis tentang perihal ini lemah. Hingga dalam perihal ini perkaranya longgar, boleh cuma dengan 3 helai, tetapi 5 helai pula lebih utama.

Syaikh Muhammad bin Shalih Angkatan laut(AL) Utsaimin mengatakan dalam Asy Syarhul Mumti,” Dalam perihal ini sudah terdapat hadits marfu( kafan seseorang perempuan merupakan 5 helai kain). Hendak namun, di dalamnya terdapat seseorang rawi yang majhul( tidak diketahui). Oleh sebab itu, sebagian ulama mengatakan:“ Seseorang perempuan dikafani semacam seseorang lelaki. Ialah 3 helai kain, satu kain diikatkan di atas yang lain.”

Mengenai menyolati jenazah, hukumnya fardhu kifayah. Untuk yang melaksanakan, hingga hendak jadi amalan yang besar menurutnya. Imam Bukhori dari Abu Hurairah melaporkan kalau Rasulullah SAW sempat bersabda,” Barangsiapa yang melihat jenazah sehingga ia menshalatkannya hingga menurutnya satu qirath serta barangsiapa yang menyaksikannya sehingga menguburkannya hingga menurutnya 2 qirath., Kemudian Rasulullah ditanya, Seberapakah 2 qirath itu?, dia saw menanggapi, Semacam 2 buah gunung yang besar.”

Posisi berdiri iman merupakan di tengah- tengah jenazah apabila jenazahnya wanita serta di kepala jenazah apabila jenazahnya merupakan pria. Disyariatkan buat menshalati jenazah di kuburan bila jenazahnya tertinggal serta terlanjur dikubur.

Tidak terdapat larangan untuk perempuan buat turut melakukan shalat jenazah. Ummu Athiyah dalam HR Muslim mengatakan,” Kami sempat dilarang buat mengiringi jenazah tetapi kami bukanlah ditekankan( didalam pelarangan itu).”

Dalam HR Muslim yang lain disebutkan era dulu ada cerita menimpa perempuan yang melaksanakan shalat jenazah.” Kala Sa’ angkatan darat(AD) bin Abi Waqqash wafat dunia, istri- istri Nabi SAW memohon supaya jenazahnya di dasar ke masjid supaya mereka bisa menshalatkannya, setelah itu perihal itu mereka jalani.”

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya,” Apakah seseorang perempuan dibolehkan berkumpul di salah satu rumah perempuan, serta mereka shalat jenazah kepada mayat di rumah itu?” Dia menanggapi,” Ya, tidak kenapa seseorang perempuan melaksanakan shalat jenazah. Baik ia shalat di masjid bersama orang- orang. Ataupun ia shalat( jenazah) di rumah jenazah. Sebab para perempuan tidak dilarang menshalati jenazah.”

Leave a Comment